Rabu, 18 September 2013

Makalah tentang seni Mesir Kuno



KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan syukur kehadirat illahi rabbi, yang telah memberikan cinta dan hidayah-nya, sehingga penulis dapat menyusun makalah “Seni Budaya Mesir Kuno ”.
Makalah ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat yang di tugaskan oleh Bu Farida selaku Guru Art kami.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu, sehingga makalah ini dapat tersusun, baik secara materil maupun moril.
Penulis menyadari dengan penuh kerendahan hati, bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan syarannya dari para pembaca yang budiman, demi kebaikan/kesempurnaan dimasa yang akan datang.
Semoga makalah ini ada faedah untuk pembaca budiman umumnya dan penulis khususnya.


Malang, 13 September 2013


Penulis


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................. i
DAFTAR ISI ...................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN .................................................... 1
A.            Latar Belakang Masalah ........................................ 1
B.            Perumusan Masalah .............................................. 1

BAB II PEMBAHASAN MASALAH ................................................ 2
A.            Memberikan pemahaman tentang Mesir kuno.............................. 2
B.            Mengetahui peninggalan Mesir kuno ........................................... 2
                      2.1 Piramid.............................. .............................. ....................... 2
                      2.2 Sphinx (patung manusia berbadan singa)............................... 2
                      2.3 Hieroglif………………………………………………………………… 2
                      2.4 Kuil ……………………………………………………………………... 2
C.           Mengetahui Budaya Mesir Kuno.......................................... 3
                      3.1 Seni Bangun dan Seni Lukis……………………………. 3
                      3.2 Seni Patung dan Seni Lukis……………………………... 3
3.3 Kehidupan sehari-hari……………………………………..3
3.4 Masakan……………………………………………………..3
3.5 Arsitektur……………………………………………………..3
3.6 SENI …………………………………………………………3
3.7 Agama dan kepercayaan…………………………………..3
3.8 Adat pemakaman
3.9 Militer
BAB III PENUTUP ................................................ 5
A.            Kesimpulan ................................. 5
B.            Saran ......................................................... 5

DAFTAR PUSTAKA


BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang masalah
Mesir pada jaman dahulu merupakan daerah yang terisolasi, menurut kajian daerah daerah Mesir sulit dijangkau dari daratan, daerah bagian timur Mesir adalah laut merah. Setelah dibatasi oleh laut keadaan alam timur Mesir merupakan gurun pasir yang gersang. Daerah selatan adalah Nubia, jaman dahulu merupakan daerah hutan Afrika yang lebat bergunung-gunung. Banyank binatang buas yang hidup di daerah tersebut, seperti gunung-gunung dan singa. Bagian barat Mesir merupakan gurun pasir yang luas dengan gunung-gunung karang, daerah ini dulu dihuni oleh orang-orang liar dan srigala padang pasir, singa dan ular cobra. Daerah utara agak lebih ramah sedikit merupakan daerah laut pantai tengah atau Mediterania. Jalan masuk paling mudah melalui hilir sungai Nil yang terdapat banyak delta-delta, erjalanan dengan perahu menyusuri sungai lebih mudah tetapi di muara itu juga hidup buaya-buaya yang buas. Daerah Mesir yang paling ramah dan subur hanyalah sepanjang jalurtepian sungai Nil. Sungai Nil merupakanjalur kehidupan masyarakat Mesir, dari kehidupan sungai Nil ini kebudayaan mesir kuno muncul dan menjadi kebudayaan terhebat di dunia (Lionel Casson: 1983, 11-13).
Untuk melihat asal-usul kebudayaan mesir dengan begitu mudah dipelajari dari bukti-bukti sejarah yang ada. Mesir jaman dahulu disebut dengan nama yang berbeda. Orng Yunani menyebut sebagai Auguiptos dan Agiptos, orang Eropa menyebut sebagai Egypt atau Egyp. Penduduk setempat dan orang-orng Libia menyebut dengan Khemi atau Khemet. Oang Arab menyebut bangsa yang ada di sekitar sungai Nil sebagai orang Mesir yang kemudian berubah menjadi Mesir. Khemi atau El Khemi dan Khemet atau El Khemet sebutan untuk membedakan orang mesir yang menghuni dataran rendah yang berwarna hitam karena lumpur humus yang subur dinamakan El Khemet, dan daerah padang pasir yang berwarna merah jingga kekuningan dinamakan El Khemit. Bagian dari daerah padang pasir yang kering dan gersang, gunung karang yang kokoh dan keras, tepian sungai Nil yang lembut subur dan menghidupi adalah jiwa dari budaya bangsa Mesir yang tercermin dalam karya-karya seni rupa.
B. Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini antara lain:
1.      Memberikan pemahaman tentang Mesir kuno.
2.      Memberikan gambaran mengenai Mesir kuno.
3.      Mengetahui peninggalan Mesir kuno.
4.      Mengetahui budaya budaya mesir kuno



.
BAB II PEMBAHASAN
A. Memberikan pemahaman tentang Mesir kuno
Kebudayaan Mesir termasuk kebudayaan yang tua mulai bangit pada 4000 tahun sebelum Masehi, pada jaman 3200 sebelum Masehi di Mesir telah ada kerajaan yang diperintah oleh paraPharao atau Firaun. Kerajaan ini disebut sebagai dinasti awal dari kerajaan Mesir. Raja-raja yang berkuasa di masa itu dapat dikenal dari fakta-fakta peninggalan antara lain: Raja Manes, Aha, Jer, Den dan Persibsen (Joyce Milton: 1980, 12-13). Latar belakang dari kerajaan ini adalah kepercayaan atau agama kuno orng Mesir yang memuja dewa-dewa. Selain itu kepercayaan orng Mesir pada dinasti awal ini menjadi dasar bagi perkembangan kebudayaan Mesir untuk masa selanjutnya. Agama mesir percaya bahwa kehidupan itu akan mati, dan sesudah itu akan terjadi kebangitan kembali. Orang Mesir membangun kuburannya bagaikan rumah atau istana yang lengkap dengan segala perabotannya. Para raja tentunya juga membangun kuburan yang bersifat monumental dan mewah. Dalam kehidupan yang baru setelah dibangkitkan dari kematian orang masih akan membutuhkan keperluan seperti dalam waktu keadaan hidup di dunia. Orang mati diberi bekal kubur berwujud keperluan seperti layaknya orng hidup. Perlengkapan hidup sehari-hari, meja, kursi, tempat tidur, tongkat, pakaian, alat makan minum, senjata, perhiasan, jimat dan lain sebagainya disertakan dalam kubur (Lionel Casson: 1983, 71-92).
Seni rupa Mesir sangat erat hubungannya dengan kekuasaan dan kepercayaan Mesir. Banyaknya karya seni monumental yang bersifat kekuasaan dan keagamaan hadir memenuhi lembaran sejarah Mesir. Masa awal dinasti mesir tidak lepas dari masa Pra Sejarah, karena perkembangan masa-masa itu saling berkaitan yang sebenarnya, masa awal ini tidak begitu jelas kronologinya, sehingga sulit untuk ditarik garis pemisahnya. Kebudayaan dinasti awal diperkirakan sudah ada jaman sebelum berdiri tegaknya kuno. Berdasarkan penemuan ahli arkheolog kebudayaan Mesir telah berkembang baik pada 4000 tahun sebelum Masehi dan munculnya dinasti awal tidak dapat diketahui hanya secara pikiran saja. Pada masa itu orng Mesir sudah melampaui jaman batu. Penemuan bukti-bukti ditemukan pada masa peninggalan purbakala di daerah Badari, Negade, El Amrah, El Gerze, dan Merinde. Penemuan-penemuan ini merupakan gambaran kebudayaan dan kesenian mesir pada jaman Pra Sejarah sampai dinasti awal.






B. Memberikan gambaran mengenai Mesir kuno
Kerajaan kuno Mesir muncul dengan penguasa para Firaun dari dinasti ke-3 sampai dinasti ke 8. Kerajaan kuno Mesir sudah mempunyai ibukota yang tetap dan besar di kota Memphis sekarng dekat Kairo. Para Firaun yang terkenal adalah Dejoser, Snefru, Khufu, Khafre, Menkaure, Weserkaf, Sahure, Unas, Pepi I dan Pepi II (Joyce Milton: 1980, 13-14). Pusat pemerintahan keagamaan, kegiatan sosial, kegiatan kesenian berpusat di ibukota kerajaan Memphis. Pada kerajaan kuno ini mulai muncul karya seni rupa yang semakin lama semakin besar dan indah, bertitik tolak dari jaman ini Mesir mencapai puncak-puncak kebesaran seninya.
Peninggalan Mesir jaman kerajaan kuno yang paling banyak adalah arsitektur, terutama bangunan kuburan. Bangunan kuburan berbentuk Mastaba dan Piramida, bangunan lain adalah kuil tempat pemujaan dewa. Bangunan ini dibuat dari batu alam yang baik, karna daerah Mesir kaya dengan batu-batuan. Alam Mesir menghasilkan batu Garnit, Bazalt, Pualam (marmer), batu kapur, diorit dan lain-lain. Batuan Mesir merupakan batu yang baik dipakai untuk bahan bangunan. Pada masa ini muncul bangunan besar-besar dengan bahan batu alam yang bersifat monumental. Karya arsitektur yang besar pada jaman ini adalah kuburan raja Djoser yang berwujud piramid berjenjang. Dan beberapa kuburan Mastabayang ukuranya cukup besar. Kuburan-kuburan raja mulai dibangun secara mudah dan megah, tahan lama. Sebaliknyabangunan istana atau rumah tidak banyak ditemukan, karena dibangun dari bangunan yang kurang tahan lama seperti kayu, batu yang tidak tahan lama. Maka peninggalan pada kerajaan kuno ini jarang ditemukan bekas bangunan rumah atau istana. Peninggalan arsitektur kerajaan kuno sebagian adalah kuburan. Kuburan bagi orang Mesir dianggap penting karena digunakan untuk mati, berarti tidur yang panjang menunggu saat kebangkitan kembali, kuburan merupakan rumah yang abadi. Dalam kuburan orang Mesir ini dapat juga diketemukan berbagai benda seni yang disertakan sebagai bekal kubur. Dalam kuburan terdapat jenasah orang yang telah meninggal, dimasukan dalam peti mati (Sarchopagus) terbuat dari kayu yang merupakan patung potret dari orang yang meninggal itu. Peti mati bagi raja-raja dibuat dengan segala kemewahan, dipalut logam mulia atau dilapis lempengan emas murni. Sarchopagus dipahat seperti keadaan wujud jenasah manusia yang meninggal (Joyce Milton: 1980, 84-85)








C. Mengetahui peninggalan Mesir kuno
1.1 PIRAMID
Piramida Mesir adalah sebutan untuk piramida yang terletak di Mesir yang dikenal sebagai "negeri piramida" sekalipun ditemukan situs piramida dalam jumlah besar di Semenanjung Yucatan yang merupakan pusat peradaban Maya.
Di Mesir umumnya piramida digunakan sebagai makam raja-raja Mesir Kuno yang dikenal dengan nama firaun. Namun demikian, berabad abad lalu piramida sering digunakan sebagai sasaran penjarahan dan perampok makam karena para raja-raja membawa harta kekayaannya dan segala macam artefak guna di alam baka, sekalipun diberi perlindungan dengan semacam kutukan-kutukan untuk mencegahnya. Sehingga pada masa raja-raja mesir kuno berikutnya, makam raja-raja dan para bangsawan ditempatkan pada lembah yang tersembunyi seperti halnya makam Raja Tutankhamun yang ditemukan secara utuh dan lengkap.
Piramida pun tidak dibuat sembarangan. Para insinyur Mesir kuno menghitung dulu jarak piramida dengan matahari, karena matahari adalah salah satu hal terpenting dalam kehidupan masyarakat Mesir kuno. Ilmuwan masa kini pun mengakui kehebatan mereka dalam membangun piramida yang termasuk tujuh keajaiban dunia ini. Waktu, harta, dan tenaga yang dikeluarkan demi pembangunan piramida pun luar biasa banyaknya. Pembangunan piramida membutuhkan waktu sekitar dua puluh tahun dan mempekerjakan lebih dari sepuluh ribu budak, dan banyak yang nyawanya melayang. Piramida terbesar berada di Giza.
1.2 Lokasi Piramida
Lokasi piramida di Mesir ditemukan di daerah
1.      Giza atau Gizeh,
2.      Abu Simbel
3.      Saqqara
4.      Abusir










2.1 Sphinx (patung manusia berbadan singa)
Sphinx merupakan patung singa berkepala manusia diyakini merupakan kepala Khufu. Sphinx adalah patung monumental, patung kerajaan pertama yang benar-benar kolosal di Mesir, dikenal sebagai The Great Sphinx of Giza, adalah simbol nasional Mesir, baik kuno dan modern. Ini telah mengaduk imajinasi penyair, sarjana, petualang dan wisatawan selama berabad-abad dan telah juga menginspirasi banyak spekulasi tentang umurnya, artinya, dan rahasia yang mungkin terkandung di dalamnya.
Kata “sphinx”, yang berarti ‘pencekik’, pertama kali diberikan oleh orang Yunani untuk makhluk luar biasa yang memiliki kepala seorang wanita, tubuh singa dan sayap burung. Di Mesir, ada banyak patung sphinx, yang biasanya dengan kepala seorang raja mengenakan topi dan tubuh singa.
The Great Sphinx diyakini menjadi patung batu yang paling besar di putaran abad yang pernah dibuat oleh manusia. Namun, harus dicatat bahwa Sphinx bukan sebuah monumen terisolasi dan bahwa hal itu harus diuji dalam konteks lingkungannya. Secara khusus, seperti banyak monumen Mesir, adalah sebuah kompleks yang terdiri tidak hanya dari patung besar itu sendiri, tetapi juga kuil tua, sebuah kuil Kerajaan Baru dan beberapa struktur kecil lainnya. Hal ini juga berkaitan erat dengan Khafre’s Valley Temple, yang tempat itu sendiri memiliki empat patung kolosal sphinx yang masing-masing lebih dari 26 meter.
Sphinx menghadap ke matahari terbit dengan sebuah kuil ke depan candi yang menyerupai matahari yang kemudian dibangun oleh raja-raja dari dinasti ke-5. Singa adalah simbol matahari pada tempat di lebih dari budaya dekat Timur kuno. Kepala manusia melambangkan kerajaan pada tubuh singa melambangkan kuasa, dan kekuatan, dikendalikan oleh kecerdasan firaun, penjamin dari tatanan kosmik, atau ma’at. Itu adalah simbolisme bertahan selama dua setengah milenium dalam ikonografi peradaban Mesir.
Kepala dan wajah Sphinx tentu mencerminkan gaya yang milik Kerajaan Mesir Lama, dan Dinasti 4 pada khususnya. Bentuk keseluruhan wajahnya lebar, hampir persegi, dengan dagu yang luas. The hiasan kepala (dikenal sebagai ‘-kain kepala Nemes’), dengan perusahaan lipat dari atas kepala dan pesawat segitiga di belakang telinga, kehadiran kerajaan ‘kobra uraeus’ pada alis, perawatan mata dan bibir semua bukti bahwa Sphinx terukir selama periode ini.
Ada sebuah lubang di bagian atas kepala, sekarang diisi, bahwa setelah memberikan dukungan untuk hiasan kepala tambahan. Penggambaran Sphinx dari akhir zaman Mesir kuno menunjukkan mahkota atau bulu di atas kepala, tapi ini tidak merupakan bagian dari desain asli. Bagian atas kepala sphinx lebih datar, bagaimanapun, begitulah bentuk dari patung sphinx Mesir
Tapi tentunya sphinx tidak dirancang untuk tampil tanpa hidung. Sebagai sebuah karya monumental, dulunya sosok sphinx dibangun lengkap dengan “hidung” dan segala aksesorisnya. Berkepala manusia (wanita), berbadan singa dan bersayap. Tak diketahui pasti alasan menghilangnya hidung sphinx. Tetapi beberapa kalangan percaya, sphinx kehilangan hidungnya sekitar 400 tahun yang lalu.. Antara tahun 1816 – 1817


2.2 Hieroglif
Hieroglif Mesir (pengucapan Hieroglif, dari Yunani = “ukiran suci”, dalam Bahasa Inggris hieroglyphic) adalah sistem tulisan formal yang digunakan masyarakat Mesir kuno yang terdiri dari kombinasi elemen logograf dan alfabet.

Hieroglif Mesir merupakan salah satu sistem penulisan paling tua yang dikenal manusia.

Beberapa dari tulisan tersebut berasal dari tahun 3000 sebelum masehi dan telah digunakan oleh bangsa Mesir selama lebih dari 3000 tahun.

Etimologis
Berdasarkan kamus, arti dari hieroglif adalah tulisan dan abjad Mesir Kuno, yang terdiri atas 700 gambar dan lambang dalam bentuk manusia, hewan, atau benda; dan lambang tulisan (menyerupai gambar paku) yang bersifat rahasia atau teka-teki yang sukar dibaca atau dipahami maknanya.

Disebut hieroglif karena ketika orang Yunani pertama kali melihat tulisan itu, mereka yakin bahwa tulisan tersebut merupakan tulisan pendeta yang memiliki makna dan tujuan yang suci. Kata hieroglif berasal dari kata sifat bahasa Yunani yaitu hieroglyphikos, gabungan dari hierós (keramat atau suci) dan glýpho (ukiran, pahatan, atau glyphs).

Kata glyphs sendiri merujuk pada "tà hieroglyphikà grámmata" (kesusastraan ukir pahat). Kata hieroglyph dalam bahasa Inggris dijadikan kata benda, menggantikan arti kata hieroglif yang sebenarnya. Yang seharusnya seperti dalam kalimat sebelumnya, kata hieroglyphic merupakan sebuah kata sifat, namun sering terjadi kekeliruan dalam penggunaan kata hieroglyph sebagai sebuah kata benda.


Sistem Penulisan
Penulisan hieroglif dapat dimulai dari kanan ke kiri, kiri ke kanan, atau dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas, tetapi biasanya dimulai dari kanan ke kiri (seperti dalam penulisan Arab, walaupun dalam penulisan formal zaman sekarang ini menggunakan kiri ke kanan).

Jenis Hieroglif
Hieroglif terdiri dari tiga macam glyph yaitu phonetic glyphs, termasuk karakter satu konsonan yang berfungsi seperti abjad, logographs; dan semagram (simbol semantik yang menentukan makna), yang membatasi arti dari logographic atau kata-kata fonetis.





2.3Kuil

Dari segi arsitektur, sebagai kuil mempunyai elemen-elemen penting, yakni Pylon (tiang batu besar dan tinggi di depan kuil), pintu masuk dengan bangunan gapura besar yang dilengkapi tiang bendera, halaman yang dikelilingi tembok, aula dengan deretan kolom besar dan altar.
Sebelum pylon ditempatkan sepasang monumen batu besar yang disebut dengan obelisk.
Pada masa dinasti ke-4 sampai dinasti ke-12, terdapat beberapa kuil yang dibangun, seperti :
  1. Kuil Edfu di Tebes
  2. Kuil Amen di Luxor
  3. Kuil Amen di Karnak
  4. Kuil Abu Simbel yang dibangun Raja Ramses II.
Adapun kuil Deir El Bahri yang terletak di lembah di dekat Tebes, kuil ini dilengkapi dengan 3 teras besar, langit-langit di bagian ruang tengah yang luas itu disanggu beberapa tiang dari batu kapur dan dilengkapi dengan realif dan lukisan.




Bentuk bangunan dengan kolom-kolom seperti kat”Proto-Doric” atau bentuk seni bangun gaya Doria awal.
Dari segi arsitektur yang paling menarik adalah penggunaans kolom dengan bermacam-macam jenis, yakni jenis menara, kolom bunga lotus, Kolom bunga lotus sederhana, kolom daun palm dan kolom kepala Hathor.






D. Mengetahui Budaya Mesir Kuno

Seni Bangun dan Seni Lukis
Seni bangun, seperti piramida, kuil dan istana serta seni rupa, seperti pahat dan lukis berkembang mencapai puncaknya. Salah satu seni bangun Mesir kuno yang sampai sekarang masih terkenal adalah Piramida. Para sarjana mencatat tidak kurang dari 30 piramida yang telah ditemukan tapi hanya 3 buah di wilayah Giza yang relatif masih lengkap.
Piramida besar Kufu, tingginya 480 kaki, atau kira-kira 14,5 meter lebar 750 kaki atau kira-kira 25 Meter. Piramida ini dibangun diatas tanah seluar hampir 5 Ha.
Untuk membangunnya diperlukan 2,3 juta batu dalam bentuk balok yang masing-masing balok beratnya 2,5 ton.
Bagian dalam piramida yang tersusun dari batu kapur berwarna kekuning-kuningan itu terdapat dua bilik (bilik untuk makam raja dan untuk makam ratu)
Makam ini juga dibangun dari tumpukan batu-batu yang disebut Mastaba.
Selain Mastaban juga terdapat monumen yang disebut Sphink. Monumen ini dianggap sebagai simbol kekuasaan raja.













Seni Patung Dan Seni Lukis
Dari kepercayaaan Mesir, muncul bentuk-bentuk patung, dewa, raja dan pendeta. Patung-patung kolosal masih terus diproduksi. Akan tetapi patung-patung berukuran kecil dengan bahan kayu atau batu banyak mendapat perhatian. Para seniman patung masa itu menaruh perhatian pada detail sekitar wajar, misalnya Patung Rohatep dan nofrat.
   
Pada masa kekuasaan dinasti ke-5 muncul seni patung kepala dari bahan kayu, patung ini sekaligus menunjukkan kebebasan seniman patung dalam berekspresi dan menentukan objeknya. Kehalusan penggarapannya dan diteil sangat jelas terlihat dalam patung ini.
Pada masa kekuasaan dinasti ke-3 muncul patung dada. Pada masa itu para seniman patung tidak saja memperkenalkan jenis patung baru, akan tetapi juga mulai mempergunakan bermacam-macam warna untuk pewarnaan patung batu seperti pada patung ratu Hatseput. Banyak sarjana barat yang mengakui kelebihan bangsa Mesir kuno. Tulisan Mesir kuno yang berupa gambar yang masing-masing gambar memiliki arti dan bungi (hieroglif), ilmu ukur (matematika). Sistem pengairan anatomi, kedokteran, seni bangunan, senirupa dan sistem kalender telah mempengaruhi kebudayaan Eropa.






Kehidupan sehari-hari

Patung yang menggambarkan kegiatan masyarakat kecil Mesir Kuno.
Sebagian besar masyarakat Mesir Kuno bekerja sebagai petani. Kediaman mereka terbuat dari tanah liat yang didesain untuk menjaga udara tetap dingin di siang hari. Setiap rumah memiliki dapur dengan atap terbuka. Di dapur itu biasanya terdapat batu giling untuk menggiling tepung dan oven kecil untuk membuat roti Tembok dicat warna putih dan beberapa juga ditutupi dengan hiasan berupa linen yang diberi warna. Lantai ditutupi dengan tikar buluh dilengkapi dengan furnitur sederhana untuk duduk dan tidur.
Bangsa Mesir Kuno sangat menghargai penampilan dan kebersihan tubuh. Sebagian besar mandi di Sungai Nil dan menggunakan sabun yang terbuat dari lemak binatang dan kapur. Laki-laki bercukur untuk menjaga kebersihan, menggunakan minyak wangi dan salep untuk mengharumkan dan menyegarkan kulit Pakaian dibuat dengan linen sederhana yang diberi warna putih, baik wanita maupun pria di kelas yang lebih elit menggunakan wig, perhiasan, dan kosmetik. Anak-anak tidak mengenakan pakaian hingga mereka dianggap dewasa, pada usia sekitar 12 tahun, dan pada usia ini laki-laki disunat dan dicukur. Ibu bertanggung jawab menjaga anaknya, sementara sang ayah bertugas mencari nafkah.
Musik dan tarian menjadi hiburan yang paling populer bagi mereka yang mampu membayar untuk melihatnya. Instrumen yang digunakan antara lain seruling dan harpa, juga instrumen yang mirip terompet juga digunakan. Pada masa Kerajaan Baru, bangsa Mesir memainkan bel, simbal, tamborine, dan drum serta mengimpor kecapi dan lira dari Asia. Mereka juga menggunakan sistrum, instrumen musik yang biasa digunakan dalam upacara keagamaan.
Bangsa Mesir Kuno mengenal berbagai macam hiburan, permainan dan musik, salah satunya adalah Senet, permainan papan yang bidaknya digerakkan dalam urutan acak. Selain itu mereka juga mengenal mehen. Juggling dan permainan menggunakan bola juga sering dimainkan anak-anak, juga permainan gulat sebagaimana digambarkan dalam makam Beni Hasan.[111] Orang-orang kaya di Mesir Kuno juga gemar berburu dan berlayar untuk hiburan.



Masakan

 


Masakan Mesir cenderung tidak berubah selama berabad-abad; Masakan Mesir modern memiliki banyak persamaan dengan Masakan Mesir Kuno. Makanan sehari-hari biasanya mengandung roti dan bir, dengan lauk berupa sayuran seperti bawang merah dan bawang putih, serta buah-buahan berbentuk biji dan ara. Wine dan daging biasanya hanya disajikan pada perayaan tertentu, kecuali di kalangan orang kaya yang lebih sering menyantapnya. Ikan, daging, dan unggas dapat diasinkan atau dikeringkan, serta direbus atau dibakar.

Arsitektur

Kuil Edfu adalah salah satu hasil karya arsitektur bangsa Mesir Kuno.
Karya arsitektur bangsa Mesir Kuno yang paling terkenal antara lain: Piramida Giza dan kuil di Thebes. Proyek pembangunan dikelola dan didanai oleh pemerintah untuk tujuan religius, sebagai bentuk peringatan, maupun untuk menunjukkan kekuasaan firaun. Bangsa Mesir Kuno mampu membangun struktur batu dengan peralatan sederhana namun efektif, dengan tingkat akurasi dan presisi yang tinggi.
Kediaman baik untuk kalangan elit maupun masyarakat biasa dibuat dari bahan yang mudah hancur seperti batu bata dan kayu, karenanya tidak ada satu pun yang terisa saat ini. Kaum tani tinggal di rumah sederhana, di sisi lain, rumah kaum elit memiliki struktur yang rumit. Beberapa istana Kerajaan Baru yang tersisa, seperti yang terletak di Malkata dan Amarna, menunjukkan tembok dan lantai yang dipenuhi hiasan dengan gambar pemandangan yang indah. Struktur penting seperti kuil atau makam dibuat dengan batu agar dapat bertahan lama.
Kuil-kuil tertua yang tersisa, seperti yang terletak di Giza, terdiri dari ruang tunggal tertutup dengan lembaran atap yang didukung oleh pilar. Pada Kerajaan Baru, arsitek menambahkan pilon, halaman terbuka, dan ruangan hypostyle; gaya ini bertahan hingga periode Yunani-Romawi. Arsitektur makam tertua yang berhasil ditemukan adalah mastaba, struktur persegi panjang dengan atap datar yang terbuat dari batu dan bata. Struktur ini biasanya dibangun untuk menutupi ruang bawah tanah untuk menyimpan mayat.













SENI


Patung dada Nefertiti, karyaThutmose, adalah salah satu mahakarya terkenal bangsa Mesir Kuno.
Bangsa Mesir Kuno memproduksi seni untuk berbagai tujuan. Selama 3500 tahun, seniman mengikuti bentuk artistik dan ikonografi yang dikembangkan pada masa Kerajaan Lama. Aliran ini memiliki prinsip-prinsip ketat yang harus diikuti, mengakibatkan bentuk aliran ini tidak mudah berubah dan terpengaruh aliran lain. Standar artistik—garis-garis sederhana, bentuk, dan area warna yang datar dikombinasikan dengan karakteristik figure yang tidak memiliki kedalaman spasial—menciptakan rasa keteraturan dan keseimbangan dalam komposisinya. Perpaduan antara teks dan gambar terjalin dengan indah baik di tembok makam dan kuil, peti mati, maupun patung.
Seniman Mesir Kuno dapat menggunakan batu dan kayu sebagai bahan dasar untuk memahat. Cat didapatkan dari mineral seperti bijih besi (merah dan kuning), bijih perunggu (biru dan hijau), jelaga atau arang (hitam), dan batu kapur (putih). Cat dapat dicampur dengan gum arab sebagai pengikat dan ditekan (press), disimpan untuk kemudian diberi air ketika hendak digunakan. Firaun menggunakan relief untuk mencatat kemenangan di pertempuran, dekrit kerajaan, atau peristiwa religius. Di masa Kerajaan Pertengahan, model kayu atau tanah liat yang menggambarkan kehidupan sehari-hari menjadi populer untuk ditambahkan di makam. Sebagai usaha menduplikasi aktivitas hidup di kehidupan setelah kematian, model ini diberi bentuk buruh, rumah, perahu, bahkan formasi militer.




Meskipun bentuknya hampir homogen, pada waktu tertentu gaya karya seni Mesir Kuno terkadang mengikuti perubahan kultural atau perilaku politik. Setelah invasi Hykos di Periode Pertengahan Kedua, seni dengan gaya Minoa ditemukan di Avaris.  Salah satu contoh perubahan gaya akibat adanya perubahan politik yang menonjol adalah bentuk artistik yang dibuat pada masa Amarna: patung-patung disesuaikan dengan gaya pemikiran religius Akhenaten. Gaya ini, yang dikenal sebagai seni Amarna, langsung diganti dan dibuah ke bentuk tradisional setelah kematian Akhenaten.








Agama dan kepercayaan


Buku Kematian adalah panduan perjalanan untuk kehidupan setelah kematian.
Kepercayaan terhadap kekuatan gaib dan adanya kehidupan setelah kematian dipegang secara turun temurun. Kuil-kuil diisi oleh dewa-dewa yang memiliki kekuatan supernatural dan menjadi tempat untuk meminta perlindungan, namun dewa-dewa tidak selalu dilihat sebagai sosok yang baik; orang mesir percaya dewa-dewa perlu diberi sesajen agar tidak mengeluarkan amarah. Struktur ini dapat berubah, tergantung siapa yang berkuasa ketika itu.

Patung Ka dipercaya dapat menjadi tempat bersemayam bagi mereka yang telah meninggal.
Dewa-dewa disembah dalam sebuah kuil yang dikelola oleh seorang imam. Di bagian tengah kuil biasanya terdapat patung dewa. Kuil tidak dijadikan tempat beribadah untuk publik, dan hanya pada hari-hari tertentu saja patung di kuil itu dikeluarkan untuk disembah oleh masyarakat. Masyarakat umum beribadah memuja patung pribadi di rumah masing-masing, dilengkapi jimat yang dipercaya mampu melindungi dari marabahaya. Setelah Kerajaan Baru, peran firaun sebagai perantara spiritual mulai berkurang seiring dengan munculnya kebiasaan untuk memuja langsung tuhan, tanpa perantara. Di sisi lain, para imam mengembangkan sistem ramalan (oracle) untuk mengkomunikasikan langsung keinginan dewa kepada masyarakat.
Masyarakat mesir percaya bahwa setiap manusia terdiri dari bagian fisik dan spiritual. Selain badan, manusia juga memiliki šwt (bayangan), ba (kepribadian atau jiwa), ka (nyawa), dan nama. Jantung dipercaya sebagai pusat dari pikiran dan emosi. Setelah kematian, aspek spiritual akan lepas dari tubuh dan dapat bergerak sesuka hati, namun mereka membutuhkan tubuh fisik mereka (atau dapat digantikan dengan patung) sebagai tempat untuk pulang. Tujuan utama mereka yang meninggal adalah menyatukan kembali ka dan ba dan menjadi "arwah yang diberkahi." Untuk mencapai kondisi itu, mereka yang mati akan diadili, jantung akan ditimbang dengan "bulu kejujuran." Jika pahalanya cukup, sang arwah diperbolehkan tetap tinggal di bumi dalam bentuk spiritual.


Makam firaun dipenuhi oleh harta karun dalam jumlah yang sangat besar, salah satunya adalah topeng emas dari mumiTutankhamun.




Adat pemakaman
Orang Mesir Kuno mempertahankan seperangkat adat pemakaman yang diyakini sebagai kebutuhan untuk menjamin keabadian setelah kematian. Berbagai kegiatan dalam adat ini adalah : proses mengawetkan tubuh melalui mumifikasi, upacara pemakaman, dan penguburan mayat bersama barang-barang yang akan digunakan oleh almarhum di akhirat. Sebelum periode Kerajaan Lama, tubuh mayat dimakamkan di dalam lubang gurun, cara ini secara alami akan mengawetkan tubuh mayat melalui proses pengeringan. Kegersangan dan kondisi gurun telah menjadi keuntungan sepanjang sejarah Mesir Kuno bagi kaum miskin yang tidak mampu mempersiapkan pemakaman sebagaimana halnya orang kaya. Orang kaya mulai menguburkan orang mati di kuburan batu, akibatnya mereka memanfaatkan mumifikasi buatan, yaitu dengan mencabut organ internal, membungkus tubuh menggunakan kain, dan meletakkan mayat ke dalam sarkofagus berupa batu empat persegi panjang atau peti kayu. Pada permulaan dinasti keempat, beberapa bagian tubuh mulai diawetkan secara terpisah dalam toples kanopik.

Anubis adalah dewa pada zaman mesir kuno yang dikaitkan dengan mumifikasi dan ritual pemakaman. Pada gambar ini ia sedang mendatangi seorang mumi.
Pada periode Kerajaan Baru, orang Mesir Kuno telah menyempurnakan seni mumifikasi. Teknik terbaik pengawetan mumi memakan waktu kurang lebih 70 hari lamanya, selama waktu tersebut secara bertahap dilakukan proses pengeluaran organ internal, pengeluaran otak melalui hidung, dan pengeringan tubuh menggunakan campuran garam yang disebut natron. Selanjutnya tubuh dibungkus menggunakan kain, pada setiap lapisan kain tersebut disisipkan jimat pelindung, mayat kemudian diletakkan pada peti mati yang disebut antropoid. Mumi periode akhir diletakkan pada laci besar cartonnage yang telah dicat. Praktik pengawetan mayat asli mulai menurun sejak zaman Ptolemeus dan Romawi, pada zaman ini masyarakat mesir kuno lebih menitikberatkan pada tampilan luar mumi.
Orang kaya Mesir dikuburkan dengan jumlah barang mewah yang lebih banyak. Tradisi penguburan barang mewah dan barang-barang sebagai bekal almarhum juga berlaku pada semua masyarakat tanpa memandang status sosial. Pada permulaan Kerajaan Baru, buku kematian ikut disertakan di kuburan, bersamaan dengan patung shabti yang dipercaya akan membantu pekerjaan mereka di akhirat. Setelah pemakaman, kerabat yang masih hidup diharapkan untuk sesekali membawa makanan ke makam dan mengucapkan doa atas nama almarhum.



DAFTAR PUSTAKA:
7.